Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiction

Cinta Sekuat Harapan

Senyum, canda, tangis, pertemuan, sepertinya tak lagi ada. RINDU Jika segala permintaan di dunia ini bisa di kabulkan, satu-satunya permintaanku adalah dunia berputar dan kembali ke pertemuan malam itu. Kau dan aku saling tatap, melakukan hal yang jadi kegemaran kita berdua, damai, senang, seakan-akan semua masalah pergi sudah. Aku bahagia, malam itu... Kau tersenyum menatapku, berkata bahwa aku adalah satu-satunya harapan hidupmu. Perempuan mana yang tidak bahagia dihargai seperti itu? Begitupun juga aku... CEMAS Setiap pagi kau memelukku, hidangkan segelas teh hangat sambil membantu melonggarkan kain yang melilit di leher, usap halus rambutku, tersenyum,"Cepat sembuh, sayang.". Sesederhana itu perlakuanmu kepadaku namun serumit benang kusut di pikiranku. Aku mencemaskanmu. Sungguh. Cemas yang sangat dalam. Mungkin takut kau pergi, atau aku yang akan meninggalkanmu. Wajarkah rasa itu muncul? KECEWA Jujur dari dalam hati, tidak jarang juga aku kecewa padam...

Seminggu Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Happy Birthday, ya :)      Ah, ini cerita basi. Kerinduanku pada sosokmu membuatku teringat akan adanya blog ini. Blog dimana semua cerita mengarah padamu, cerita kesan pertama yang menggetarkan hati, tersusun rapi di sini. Tak peduli siapapun membacanya. Mantan? Teman?Atau orang asing lainnya. Bagiku ini adalah duniaku. Duniaku yang beradu denganmu, menghasilkan rona-rona cerita yang membuat siapapun yang membacanya bertanya, "Siapakah sosok 'kamu'? Siapakah sosok 'dia'?      Kali ini, aku akan menceritakan semua yang terjadi seminggu sebelum hari ulang tahunmu. Semoga kamu tidak marah atas perbuatanku ini, ya. :) ***      Malam ini aku sedang berfikir tentang hari pentingmu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang yang pandai membuat kejutan?      Maaf, sayang. Aku terlalu gugup menyikapi ini. Aku terlalu polos untuk hal ini. Kamu tahu? Aku sudah menghabiskan waktu sebulan terakhir ini hanya untuk memikirkan kamu, ...

Sore Pertama dan Seterusnya

     Lelaki itu sudah aku temui beberapa bulan lalu. Bukan dalam nyata, namun dalam maya. Tak banyak cerita yang aku tahu dari sosoknya yang tegap tinggi berwibawa itu. Yang aku tahu hanya satu, dia lelaki berkacamata yang sangat menyebalkan.      Sore itu adalah sore pertama kita bertemu dalam nyata. Aku menemuinya di suatu acara penting yang sama. Kita saling menatap dan berjabat tangan. "Kamu yang kemarin mampir di profil saya ya?" lelaki itu bertanya dengan senyuman kecil yang muncul dari sudut bibirnya. Aku mengangguk sambil menahan tangan yang sedari tadi aku jabat. Namun orang yang berada di sampingku membuyarkan segala lamunan. Aku tersipu. Pipiku menjadi merah dan menjadi salah tingkah. Dugaanku memang benar, kamu lelaki berkacamata yang menyebalkan. Jika ada sore pertama, maka ada sore kedua, begitupun seterusnya. Benar, aku menjadi sering menemuinya dalam nyataku, dengan mataku, dan mulai terbiasa dengan hatiku.      Kita...

DIA - Motivator Terhebat

     Aku tak pernah berhenti membahas ini. Otakku sudah terbiasa mendengarnya. Muak bagi sebagian orang yang tak pandai merasakan. Bosan untuk orang yang hanya mempermainkannya saja. Tapi,  selalu baru untuk orang-orang yang tulus mendengarkannya. Namun, semakin lama aku membahas, semakin bingung aku di buatnya. Seperti gelandangan yang tak tahu arah. Berjalan namun tak pernah tahu tujuannya. Aku dibuat bodoh olehnya. Bagaimana mungkin aku tersenyum-senyum tanpa sebab setiap kali aku bangun tidur? Bagaimana mungkin aku selalu berharap ada pesan yang dia tinggalkan dalam smartphone kecilku? Remaja labil! Aku selalu mengumpat diri sendiri. Secepat itu kah? Mengganti perasaan lama dengan perasaan "aneh" yang baru kali ini aku alami?      Kau tahu? Dia orang yang pertama kali "muncul" di saat yang lain baru saja mendengarnya. Dia yang pertama kali "datang" di saat aku membutuhkan seseorang. Dia yang selalu ada di depan pintu saat aku mengataka...

That's Not True

     Sesuatu yang tak kupahami kini datang lagi. Suatu hal yang membuat ku bingung, risau. Ini bukan soal hati namun realita. Tapi, sebentar, bukan soal hati? Jelas ini soal hati. Sesuatu yang berasal dari hati dan sudah terjadi. Realita. Ya kan?      Aku diam dan mulai berfikir mencari akar dari perasaan ini. Ada semangat tersendiri saat aku melihatmu. Ada sedikit perasaan aneh saat kita satu. Aku takut perasaan yang tak ku inginkan benar-benar datang. Aku takut sesuatu yang menyakitkan merasuk dalam hati. Aku takut semua tidak sejalan dengan keinginanku.      Jauh dari dalam sini aku  menginginkan kesatuan. Bahagia kan kalau kita satu? Namun apa daya? Aku tak tahu hati, perasaan, dan hidupmu. Aku hanya mampu mengerti kamu siapa, dari mana, anak siapa, hanya sebatas itu. Ini yang aku pikirkan. Ketika hubungan di gantungkan. Ketika status saja tidak jelas.      Diammu adalah ragu ku. Semua yang kau hadapi sela...

Kamu, Sekarang

     Kubuka dan kunyalakan laptop yang ada di hadapanku. Aku penasaran. Aku ingin melihat kamu lagi lewat dunia maya yang tak kan pernah menjadi nyata. Stalker, itu lah aku saat ini. Aku arahkan kursor ini menuju Chrome dan mengetikkan "http://fb.com" di add bar. Aku ingin melihatmu, di duniaku. Kamu membuat ku sibuk. Kamu penyebab utama ku tidak tidur (lagi) malam ini. Aku ingin melihatmu, teramat sangat.      Aku mencari namamu di facebook dan akhirnya aku menemukan satu profil berisi namamu. Nama yang artinya begitu halus dan tulus. Melihat profil facebook mu yang dulu pernah aku pegang, membuatku sedikit mengingat masa lalu.      Kita pernah berhubungan, right? Kita pernah mempunyai status yang begitu dekat, kan? Sampai kita sama-sama mengetahui pasword facebook kita masing-masing, saling bertukar informasi, malah kita pernah berantem gara-gara ada cowok yang ingin berkenalan denganku. Masih ingat? Haha. Tentu aku masih ingat ke...

Pergi

ku pejamkan mata ini ku tertidur tanpa lelap tapi ku bermimpi kau jadi milikku suaramu tetap bernyanyi walau sadar ku kian tak ada namun ku bahagia lagumu milikku indah senyumanmu takkan bisa pudar makin indah di hatiku walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi apapun yang kau ciptakan ku akan berjuang dapatkan jika kau bahagia aku semakin bahagia indahnya wajahmu takkan pernah sirna makin terang di hatiku walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi indah senyumanmu takkan bisa pudar makin indah di hatiku walau ku sadari itu cinta yang tak mungkin jadi meski ku tak bisa memiliki dirimu takkan ku berpaling pergi (berpaling pergi) makin ku mencintai ku lepas kau kekasih biar terbang tinggi cinta yang tak mungkin terbang tinggi      Jika kamu mengalami kisah cinta seperti lirik lagu yang aku tulis di atas berarti kamu hebat. Bagaimana tidak? Saat cinta tidak dibalas dengan semestinya, disaat cinta malah berusaha menerkamnya...

Masih Sama

Aku. Kamu. Entah dengan cara apa bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama masing-masing. Semu, tapi sangat jelas. Yang aku butuhkan hanya pertemuan. Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti menginginkannya juga. Aku capek, sayang. Menunggu kamu setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu – ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya, aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan ta...

Tidak Berjudul

     Aku lelah. Aku ingin tidur. Sebentar saja. Aku butuh waktu. Untuk berhenti memikirkan sesuatu. Semua hal bercampur jadi satu. Bahkan aku sendiri tak bisa membedakan mana yang nyata dan yang khayal. Galau. Risau. Aku sangat benci ketika semua rasa itu menghampiri di saat aku sudah terkantuk seperti ini. Kembali aku memikirkan kamu, dia, dan mereka. Aku ingin tidur. Terpejam. Bukan terjaga seperti ini. Kantong mataku sudah terlalu tebal. Tak karuan, Tak berdaya.      Oke, kita selesaikan semua nya malam ini. Yang pertama adalah kamu. Jujur kamu sangat mengganggu ku. Ahh. Namun seperti nya aku belum bisa menyelesaikan masalah ku dengan mu. Intinya kamu selama ini selalu bergayut dalam ingatan.      Dia? Siapa dia?      Mereka. Mereka? Mereka siapa? Aku tak pernah membahas mereka di sini.Siapa mereka? Siapa! Tidak ada jawaban dari hati ku.      OKE.      Biang masalah nya adalah ka...

Siapa Aku? Aku Siapa?

     Kamu. Sosok yang diam-diam aku perhatikan begitu sulit aku artikan. Pertemuan aneh kita membuat semua nya runyam. Ya, hati ku runyam. Aku yang tak pandai mengerti begitu cepat mengagumi. Aneh. Biasanya tak secepat ini aku menyukai seseorang. Apalagi seseorang yang baru aku kenal minggu malam.      Pernah suatu ketika kita berpapasan. Aku menyimpan wajah. Tak berani menatap namun sesekali melirik ke wajahmu. Berharap kamu juga melihatku. Namun ku rasa tidak.      Ku rebahkan tubuh rapuh di kasur empuk dalam kamar kesayanganku. Memandang langit-langit. Berfikir. Melamun. Siapa aku? Aku siapa? Mataku terpejam. Namun ketika terpejam, mata ini selalu saja meminta alasan untuk terjaga. Meminta aku memikirkan hal yang akhir-akhir ini sering menghantui.Hatiku melayang bak burung berterbangan. Burung congak yang enggan turun se senti pun. Aku merasa aneh lagi! Arrghh! Butuh kejelasan? Tidak. Aku nyaman seperti ini. Butuh pendekatan? Tida...

Berjuang Sampai Lelah

Taukah kau? Tidakkah kau fikirkan bagaimana jadi aku? Mencintai seseorang yang beribadah setiap sabtu sore. Menyayangi orang yang rajin menghadiri misa setiap jumat. Apakah kau fikir hubungan ini mudah? Semudah kau membalikkan tangan? Tidak, Nona. Kau salah. Kau selalu menganggap hubungan ini mudah. Memikirkan bahwa akhir hubungan ini selalu bahagia. Bersama-sama berbuka puasa, mengaji bersama, sholat bersama. Ya, kau terlalu bermimpi. Ya, aku kembali tahu. Semua memang tak mustahil. Aku dan dia - seseorang yang membuat bayangan segitiga dengan tangannya sebelum menyantap makanan pagi itu, memang mencintai satu sama lain setelah dia memutuskan pergi dari hidupmu. Aku dan dia, saling menatap dan tersenyum. Sayang. Tapi tahukah kau? Di dalam diriku, ada kekhawatiran yang tak bisa ku jelaskan. Aku menyayanginya seperti kau menyayanginya, Nona. Tapi – tolong mengertilah apa maksudku. Tenang, Nona. Biarkan aku yang berjuang. Biarkan aku dan dia yang memutuskan akhir cerita ...

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dalam jiwa terselip satu nama. Dalam hati tersimpan kenangan bersamanya. Ibu, makhluk sempurna hadiah Tuhan untukku. Banyak kenangan yang aku torehkan bersamanya. Tak jarang ibu tertawa akan kepolosanku. Tersenyum dan berkata ''Bagus!'' saat aku berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah. Marah ketika aku malas menyauti perintah. Dan memandang sembari mengelus rambutku ketika aku sudah larut dalam mimpi. Tulus. Perhatian. Beliau adalah ibu terhebatku. Bekerja mati-matian - pulang larut malam - hanya untuk menuruti keinginanku. Ya, sama seperti bapak. Ibu adalah pekerja keras. Dalam hidupnya tidak pernah ada kata menyerah. Dalam dirinya tidak pernah ada kata takut untuk mencoba. Aku salut. Bangga. Ibu hebat! Ibu. Seseorang yang tak pernah luput dari doa dalam setiap malamku. Seorang yang mampu meredam ketakutanku. Seseorang yang pantas menangis bangga karenaku. Happy birthday, Ibu. Maaf, aku datang tanpa kue seperti yang kita lakukan tahun lalu. Aku tak menyiapkan ka...

Sampai Nanti

Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau haturkan (dulu) masih berlaku? Entah. Kangen . Ketika kau tak malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil menatap layar kecil dalam genggaman. Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah. Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu cepat berubah. Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku. Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas. Sabar. Tegar. Menunggu. Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata...

Rindu

Aku. Kamu. Entah dengan cara apa bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama masing-masing. Semu, tapi sangat jelas. Yang aku butuhkan hanya pertemuan. Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti menginginkannya juga. Aku capek, sayang. Menunggu kamu setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu – ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya, aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan tatapan...

Hanya Saja Aku Ingin Sendiri

          ''Aku lulus!'' wajah sumringah tak dapat aku tutup-tutupi lagi. Dengan wajah berseri dan tersenyum penuh aku menghampiri lelaki 18 (sembilan belas) tahun itu. Ku tunjukkan hasil kerja keras ku padanya. Ku sodorkan lembaran itu. Menerima. Namun tetap diam.           ''Tuh kan aku lulus. Wah senang sekali. Alhamdulillah.''           ''Oh ya, selamat ya. Aku juga.'' jawabnya dengan nada biasa dan datar.           ''Kamu, kenapa? Tak biasanya kamu seperti itu.''           ''Oh, tidak. Aku tidak kenapa-kenapa. Sungguh, aku baik-baik saja.''           ''Tidak mungkin. Kamu menyembunyikan sesuatu. Iya kan? Iya pasti.'' kataku dengan nada menyelidik.           ''Sudah ku bilang aku baik-baik saja. Mengapa kamu begitu yakin?''           ''Yakin bagaimana maks...

Kau, Lelaki Manis

          Hey, lelaki manis. Bagaimana kabarmu? :')           Kejadian 4 (empat) tahun lalu. Masih ingatkah? Mungkin kau sudah lupa karena memang sengaja untuk melupakannya. Ahh, tapi aku tak peduli!           Bolehkah aku - yang pernah menjadi persinggahan hati mengungkit semua itu kembali? :)           Lelaki manis yang sempat ku dambakan,           Seandainya kau tau apa yang ada di sini, di dalam sini, pantaskah aku mengeluh tersakiti? Oke, aku sadar, aku bukan yang terkuat, aku menyadarinya.           Kau, Lelaki manis namun egois,           Secara tiba-tiba datang 4 (empat) tahun lalu menghadap, menyapa,  mendekat seakan meyakinkan aku bahwa kau lah pemenang di setiap doa yang aku panjatkan di setiap sujudku. Bagaimana bisa aku langsung percaya kau datang? Kau - ibarat pelampun...