Sesuatu yang tak kupahami kini datang lagi. Suatu hal yang membuat ku bingung, risau. Ini bukan soal hati namun realita. Tapi, sebentar, bukan soal hati? Jelas ini soal hati. Sesuatu yang berasal dari hati dan sudah terjadi. Realita. Ya kan?
Aku diam dan mulai berfikir mencari akar dari perasaan ini. Ada semangat tersendiri saat aku melihatmu. Ada sedikit perasaan aneh saat kita satu. Aku takut perasaan yang tak ku inginkan benar-benar datang. Aku takut sesuatu yang menyakitkan merasuk dalam hati. Aku takut semua tidak sejalan dengan keinginanku.
Jauh dari dalam sini aku menginginkan kesatuan. Bahagia kan kalau kita satu? Namun apa daya? Aku tak tahu hati, perasaan, dan hidupmu. Aku hanya mampu mengerti kamu siapa, dari mana, anak siapa, hanya sebatas itu. Ini yang aku pikirkan. Ketika hubungan di gantungkan. Ketika status saja tidak jelas.
Diammu adalah ragu ku. Semua yang kau hadapi selalu kau balas dengan diam. Termasuk soal hati. Padahal aku menunggu kamu mengatakan sesuatu, mengungkapkan isi hatimu. Aku yakin namun ragu kamu juga merasakan hal yang sama. Aku berfikir kamu belum mampu mengungkapkan itu karena masih ada lelaki lain di belakangku. Lelaki yang diam-diam menghilang dari pandangan setelah lima tahun bersama.
Sekarang mari kita bicara realita. Nyata nya, kini aku merasa sendiri. Lelaki yang aku cintai pelan-pelan menghilang entah kemana. Salah kah jika aku menyimpan namamu di atas nama lelaki itu? Salahkah jika aku mengharapkan kesatuan dan kebahagiaan lagi?
Maaf kan aku. Terlalu naif jika aku menganggapmu hanya teman. Terlalu muna jika aku masih mempertahankan lelaki yang tidak pernah memberi kabar lagi. Aku hanya bisa menulis ini. Aku tak mampu mengatakan apa-apa lagi. Aku tak sanggup bicara ini kepadamu. Aku tak mau merusak hubungan yang selama ini sudah kita bangun.
Anggap saja ini sebuah lelucon wanita yang sedang terjaga. Anggap saja ini cerita fiksi yang tak pernah terjadi.
Aku nyaman seperti ini.
Komentar
Posting Komentar