Langsung ke konten utama

Sore Pertama dan Seterusnya


     Lelaki itu sudah aku temui beberapa bulan lalu. Bukan dalam nyata, namun dalam maya. Tak banyak cerita yang aku tahu dari sosoknya yang tegap tinggi berwibawa itu. Yang aku tahu hanya satu, dia lelaki berkacamata yang sangat menyebalkan.
     Sore itu adalah sore pertama kita bertemu dalam nyata. Aku menemuinya di suatu acara penting yang sama. Kita saling menatap dan berjabat tangan. "Kamu yang kemarin mampir di profil saya ya?" lelaki itu bertanya dengan senyuman kecil yang muncul dari sudut bibirnya. Aku mengangguk sambil menahan tangan yang sedari tadi aku jabat. Namun orang yang berada di sampingku membuyarkan segala lamunan. Aku tersipu. Pipiku menjadi merah dan menjadi salah tingkah. Dugaanku memang benar, kamu lelaki berkacamata yang menyebalkan.
Jika ada sore pertama, maka ada sore kedua, begitupun seterusnya. Benar, aku menjadi sering menemuinya dalam nyataku, dengan mataku, dan mulai terbiasa dengan hatiku.
     Kita menjadi dekat, sangat dekat. Boleh dibilang menjadi sahabat walaupun orang lain memikirkan bahwa kita lebih dari sahabat. "No problem." jawabannya tegas sekali ketika aku bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang lain yang bercerita tentang hubungan kita?".
     Tak jarang kita pergi bersama. Malam minggu yang harusnya aku habiskan dengan kekasihku dan dia pergi dengan kekasihnya harus di ganti dengan kebersamaan kita. Bukan apa-apa, namun memang ini yang kita lakukan. Tentu sebagai seorang sahabat, teman terdekat ketika yang di sayang jauh di pelupuk mata. :)
     Aku semakin mengenalnya. Yang aku fikir lelaki itu masih tetap menyebalkan. Tapi diskripsi tentang dia di otakku menjadi berkembang. Dia lelaki berkacamata yang menyebalkan namun baik, suka membantu, dan "memikat".
Pikiran "suka" perlahan aku buang jauh-jauh. Aku tak mau menyakiti siapapun. Lebih baik menjadi sahabat, pikirku.
Tapi, tunggu. Apakah salah jika aku mengagumi?
 Entah sore keberapa, lelaki menyebalkan itu datang menemuiku.
     Matanya sembab. Wajahnya layu. Dan spontan memelukku. "Aku sudah tidak bersama nya lagi." itulah yang aku dengar setelah berhasil menenangkannya. Dan sejak sore itu, lelaki berkacamata yang tegap tinggi berwibawa itu menjadi sangat berbeda.
     Pernah dilain waktu aku memulai percakapan dengannya. Menanyakan keadaannya. Menenangkan luka hatinya. Rona wajahnya hilang. Bahkan kewibawaan yang ada dalam dirinya berubah menjadi tokoh anak yang sangat merindukan kedatangan ibu bapaknya. Tapi, sebagai seorang yang mengagumi, aku membantunya melupakan yang telah lalu, menyembuhkan luka hatinya, dan aku lakikan itu sepanjang hari. Sampai kewibawaan dan kedewasaannya muncul kembali.
Maaf jangan pernah beranggapan aku senang melihat mereka berpisah.
Ketika aku mendengarkan semua kisahnya, aku sadar. Kebersamaan memang tidak bisa dilupakan dalam sekejap mata, secepat kilat. Dan itu butuh waktu yang sangat sangat sangat lama.
     Dan sore kemarin aku merenung. Kita semakin dekat, sangat dekat. Bahkan aku meragukan status sahabat yang dari dulu melekat diantara kita. Aku menganggap bahwa kita.... Ah, sudahlah. Biarkan Tuhan yang menjawab keadaan sulit ini. Karena yang aku tahu, kemarin, di dalam mata lelaki itu nama ku belum sesempurna nama yang pernah ada dalam hatinya.
     Aku memang tak berharap mengganti posisi seseorang yang dia cintai, tidak akan pernah. Tapi jika aku boleh jujur, aku sangat sangat mengagumi sosok itu. Sosok wibawa yang sangat sabar dan pekerja keras. Sosok lelaki idaman yang dicari setiap perempuan di sekitarnya.
 Hingga sore ini, rasa itu tetap sama. Aku mengagumi, menyayangi, mencintai sosok lelaki yang aku jabat tangannya lama-lama saat pertemuan sore pertama.
Aku berharap, sore ini akan sama dengan sore-sore selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dalam jiwa terselip satu nama. Dalam hati tersimpan kenangan bersamanya. Ibu, makhluk sempurna hadiah Tuhan untukku. Banyak kenangan yang aku torehkan bersamanya. Tak jarang ibu tertawa akan kepolosanku. Tersenyum dan berkata ''Bagus!'' saat aku berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah. Marah ketika aku malas menyauti perintah. Dan memandang sembari mengelus rambutku ketika aku sudah larut dalam mimpi. Tulus. Perhatian. Beliau adalah ibu terhebatku. Bekerja mati-matian - pulang larut malam - hanya untuk menuruti keinginanku. Ya, sama seperti bapak. Ibu adalah pekerja keras. Dalam hidupnya tidak pernah ada kata menyerah. Dalam dirinya tidak pernah ada kata takut untuk mencoba. Aku salut. Bangga. Ibu hebat! Ibu. Seseorang yang tak pernah luput dari doa dalam setiap malamku. Seorang yang mampu meredam ketakutanku. Seseorang yang pantas menangis bangga karenaku. Happy birthday, Ibu. Maaf, aku datang tanpa kue seperti yang kita lakukan tahun lalu. Aku tak menyiapkan ka...

Sampai Nanti

Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau haturkan (dulu) masih berlaku? Entah. Kangen . Ketika kau tak malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil menatap layar kecil dalam genggaman. Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah. Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu cepat berubah. Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku. Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas. Sabar. Tegar. Menunggu. Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata...