Senyum, canda, tangis, pertemuan, sepertinya tak lagi ada.
RINDU
Jika segala permintaan di dunia ini bisa di kabulkan, satu-satunya permintaanku adalah dunia berputar dan kembali ke pertemuan malam itu. Kau dan aku saling tatap, melakukan hal yang jadi kegemaran kita berdua, damai, senang, seakan-akan semua masalah pergi sudah. Aku bahagia, malam itu...
Kau tersenyum menatapku, berkata bahwa aku adalah satu-satunya harapan hidupmu. Perempuan mana yang tidak bahagia dihargai seperti itu?
Begitupun juga aku...
CEMAS
Setiap pagi kau memelukku, hidangkan segelas teh hangat sambil membantu melonggarkan kain yang melilit di leher, usap halus rambutku, tersenyum,"Cepat sembuh, sayang.". Sesederhana itu perlakuanmu kepadaku namun serumit benang kusut di pikiranku. Aku mencemaskanmu. Sungguh. Cemas yang sangat dalam. Mungkin takut kau pergi, atau aku yang akan meninggalkanmu. Wajarkah rasa itu muncul?
KECEWA
Jujur dari dalam hati, tidak jarang juga aku kecewa padamu. Bukan karena kau tidak mau menuruti apa kataku, atau adanya perempuan lain. Semua karena (mungkin) ada hal yang tidak kusuka, merebutmu yang sudah berhasil kupeluk dengan susah payah. Membuatmu semakin menjauh. Pembuktian cintamu menjadi hilang. Kau menjadi acuh tak acuh. Jika kau tau, hatiku terluka karena sikapmu yang sesederhana itu.
PERGI
Tidak, aku belum mau pergi. Kau masih membutuhkanku, masih mengharapkanku dan aku masih menjadi harapan hidupmu. Benar? Tapi bolehkah kau menjadi diriku sebentar saja? Seberapa lelah yang kaurasa? Seberapa sakit dadamu melihat tangisku? Aku mencintaimu, tapi bukan begini, seakan usahaku menemanimu, menyemangatimu, mendengarkan segala ceritamu dan selalu sabar menunggumu selesai 'bekerja' tidak berarti apa-apa. Untuk apa cinta tanpa pembuktian, tanpa timbal balik seperti halnya kau hanya melihatku yang sedang bersusah payah membawa karung berat dipunggung, tanpa membantu. Untuk apa?
Tak apa jika kau masih belum mengerti. Aku sangat-sangat memahami hal itu, memaklumi semuanya. Kau pasti butuh waktu untuk belajar membalas perjuanganku. Atau bisa saja kau masih butuh waktu untuk berkelana sendirian, bersenang-senang dengan hal yang kau suka, dan pulang jika sudah bosan.
Ketahuilah, kau masih boleh pulang. Pintuku selalu terbuka untukmu.Tenang saja, aku masih bersama harapanmu, meminta Tuhan agar kita masih bisa menyatu. Senyumku, pelukku, perasaanku masih tumpah ruah untukmu. Kelak kau akan tahu, membayangkan, atau bahkan merasakan menjadi seperti diriku. Tapi perlu diingat, aku akan pergi sewaktu-waktu, mungkin lelah menunggu atau sesuatu hal lain yang lebih menghargai usahaku.
Dariku,
Perempuan yang pernah menyukaimu
Komentar
Posting Komentar