Senyum, canda, tangis, pertemuan, sepertinya tak lagi ada. RINDU Jika segala permintaan di dunia ini bisa di kabulkan, satu-satunya permintaanku adalah dunia berputar dan kembali ke pertemuan malam itu. Kau dan aku saling tatap, melakukan hal yang jadi kegemaran kita berdua, damai, senang, seakan-akan semua masalah pergi sudah. Aku bahagia, malam itu... Kau tersenyum menatapku, berkata bahwa aku adalah satu-satunya harapan hidupmu. Perempuan mana yang tidak bahagia dihargai seperti itu? Begitupun juga aku... CEMAS Setiap pagi kau memelukku, hidangkan segelas teh hangat sambil membantu melonggarkan kain yang melilit di leher, usap halus rambutku, tersenyum,"Cepat sembuh, sayang.". Sesederhana itu perlakuanmu kepadaku namun serumit benang kusut di pikiranku. Aku mencemaskanmu. Sungguh. Cemas yang sangat dalam. Mungkin takut kau pergi, atau aku yang akan meninggalkanmu. Wajarkah rasa itu muncul? KECEWA Jujur dari dalam hati, tidak jarang juga aku kecewa padam...
Tempat berlindung paling nyaman itu kamu, bu. Disaat semua saling menyudutkan keadaan , entah mengapa yang kupikirkan adalah kamu. Aku yang belum sempurna memaknai hal yang benar dan salah terlalu rapuh untuk melangkah. Ibu, aku jatuh sekarang. Aku ingin memelukmu yang selalu mencium keningku seperti saat perpisahan kita di Stasiun, berharap aku bisa cepat pulang dan bercerita denganmu. Ibu, terkadang aku berfikir hidup ini tak seindah angan kita. Setiap pilihan A lalu yang terjadi pilihan B, dan seterusnya. Tapi kamu selalu berkata, "Maju terus, Sel. Jangan cepat capek.". Bu, aku menangis sekarang. Karena hidupku selalu dilingkupi kesalahan. Apa karena memang hidupku seperti itu? Bu, aku selalu memotivasi diri,"do your best." semata-mata untuk menunjukkan betapa aku sepertimu, bu :') Ibu, kangen. Aku ingin menemui mu lagi. Pulang karena disudutkan akan semua nya. Aku kangen, bu. Ibu........... Ibu.......... Ibu..........