Aku. Kamu. Entah dengan cara apa
bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita
pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan
itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan
semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama
masing-masing. Semu, tapi sangat jelas.
Yang aku butuhkan hanya pertemuan.
Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah
aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti
menginginkannya juga.
Aku capek, sayang. Menunggu kamu
setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu –
ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku
lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku
selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya,
aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan tatapan. Tanpa tutur kata.
Namun apakah salah aku menginginkan pertemuan itu lagi?
Entah sampai kapan aku bisa
bertahan seperti ini. Dengan hubungan yang tak tahu arah ini. Mungkin aku bisa
saja melihatmu dengan hati ku. Menantimu semampuku. Tapi apakah patut aku
melakukan semua itu? Sedangkan kamu – tidak tahu kemana. Dengan wanita lain? Tidak. Kamu
terlalu bodoh untuk melakukan ini. Kamu baik. Ya kan?
Untuk kamu, lelaki Jogja yang
sedang bersibuk ria menuntut ilmu.
Aku merindukanmu.
Mengharap pertemuan kedua.
Mengulang pertemuan dulu.
Namun, dengan tatapan dan tutur
kata.
Komentar
Posting Komentar