Langsung ke konten utama

Masih Sama

Aku. Kamu. Entah dengan cara apa bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama masing-masing. Semu, tapi sangat jelas.
Yang aku butuhkan hanya pertemuan. Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti menginginkannya juga.
Aku capek, sayang. Menunggu kamu setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu – ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya, aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan tatapan. Tanpa tutur kata. Namun apakah salah aku menginginkan pertemuan itu lagi?
Entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini. Dengan hubungan yang tak tahu arah ini. Mungkin aku bisa saja melihatmu dengan hati ku. Menantimu semampuku. Tapi apakah patut aku melakukan semua itu? Sedangkan kamu – tidak tahu  kemana. Dengan wanita lain? Tidak. Kamu terlalu bodoh untuk melakukan ini. Kamu baik. Ya kan?
Untuk kamu, lelaki Jogja yang sedang bersibuk ria menuntut ilmu.
Aku merindukanmu.
Mengharap pertemuan kedua. Mengulang pertemuan dulu.

Namun, dengan tatapan dan tutur kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dalam jiwa terselip satu nama. Dalam hati tersimpan kenangan bersamanya. Ibu, makhluk sempurna hadiah Tuhan untukku. Banyak kenangan yang aku torehkan bersamanya. Tak jarang ibu tertawa akan kepolosanku. Tersenyum dan berkata ''Bagus!'' saat aku berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah. Marah ketika aku malas menyauti perintah. Dan memandang sembari mengelus rambutku ketika aku sudah larut dalam mimpi. Tulus. Perhatian. Beliau adalah ibu terhebatku. Bekerja mati-matian - pulang larut malam - hanya untuk menuruti keinginanku. Ya, sama seperti bapak. Ibu adalah pekerja keras. Dalam hidupnya tidak pernah ada kata menyerah. Dalam dirinya tidak pernah ada kata takut untuk mencoba. Aku salut. Bangga. Ibu hebat! Ibu. Seseorang yang tak pernah luput dari doa dalam setiap malamku. Seorang yang mampu meredam ketakutanku. Seseorang yang pantas menangis bangga karenaku. Happy birthday, Ibu. Maaf, aku datang tanpa kue seperti yang kita lakukan tahun lalu. Aku tak menyiapkan ka...

Sampai Nanti

Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau haturkan (dulu) masih berlaku? Entah. Kangen . Ketika kau tak malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil menatap layar kecil dalam genggaman. Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah. Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu cepat berubah. Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku. Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas. Sabar. Tegar. Menunggu. Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata...