Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku
berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta
sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau
haturkan (dulu) masih berlaku? Entah.
Kangen. Ketika kau tak
malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa
bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil
menatap layar kecil dalam genggaman.
Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah.
Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu
cepat berubah.
Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu
pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku.
Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang
tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas.
Sabar. Tegar. Menunggu.
Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata-kata
kasar dalam pesan singkatmu? Tetap tegar ketika kamu pergi - entah kemana?
Tetap menunggu walau hati berteriak ingin pulang?
Tidak, aku tidak bodoh. Aku punya alasan untuk bertahan. Egois,
memang. Tak mungkin aku berhenti ketika kamu membutuhkan sosok yang mampu
mengubahmu. Tak mungkin aku berhenti berjuang atas ketulusanku. Tak mungkin aku
pergi begitu saja - dengan orang lain - sedangkan hati ku masih terpaut
kepadamu.
Aku tak kan pernah berhenti. Menunggumu. Menunggu keputusanmu.
Menunggu balasan atas ketulusanku. Sampai aku capek. Sampai aku tertidur.
Sampai aku berkata, ''Berjuanglah berubah. Tanpa aku.''
Komentar
Posting Komentar