Langsung ke konten utama

Sampai Nanti

Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau haturkan (dulu) masih berlaku? Entah.
Kangen. Ketika kau tak malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil menatap layar kecil dalam genggaman.
Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah. Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu cepat berubah.
Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku. Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas.
Sabar. Tegar. Menunggu.
Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata-kata kasar dalam pesan singkatmu? Tetap tegar ketika kamu pergi - entah kemana? Tetap menunggu walau hati berteriak ingin pulang?
Tidak, aku tidak bodoh. Aku punya alasan untuk bertahan. Egois, memang. Tak mungkin aku berhenti ketika kamu membutuhkan sosok yang mampu mengubahmu. Tak mungkin aku berhenti berjuang atas ketulusanku. Tak mungkin aku pergi begitu saja - dengan orang lain - sedangkan hati ku masih terpaut kepadamu.

Aku tak kan pernah berhenti. Menunggumu. Menunggu keputusanmu. Menunggu balasan atas ketulusanku. Sampai aku capek. Sampai aku tertidur. Sampai aku berkata, ''Berjuanglah berubah. Tanpa aku.''

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Seminggu Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Happy Birthday, ya :)      Ah, ini cerita basi. Kerinduanku pada sosokmu membuatku teringat akan adanya blog ini. Blog dimana semua cerita mengarah padamu, cerita kesan pertama yang menggetarkan hati, tersusun rapi di sini. Tak peduli siapapun membacanya. Mantan? Teman?Atau orang asing lainnya. Bagiku ini adalah duniaku. Duniaku yang beradu denganmu, menghasilkan rona-rona cerita yang membuat siapapun yang membacanya bertanya, "Siapakah sosok 'kamu'? Siapakah sosok 'dia'?      Kali ini, aku akan menceritakan semua yang terjadi seminggu sebelum hari ulang tahunmu. Semoga kamu tidak marah atas perbuatanku ini, ya. :) ***      Malam ini aku sedang berfikir tentang hari pentingmu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang yang pandai membuat kejutan?      Maaf, sayang. Aku terlalu gugup menyikapi ini. Aku terlalu polos untuk hal ini. Kamu tahu? Aku sudah menghabiskan waktu sebulan terakhir ini hanya untuk memikirkan kamu, ...

Setoreh Cerita Tentang Bapak

Selamat siang, hero ku yang sedang berjuang menjaga nenek. Apa kabar? Siang cerah ini aku kembali memikirkanmu. Mencari penyebab atas alasan ku kembali mencari mu. Sekarang adalah hari Minggu, waktu ku untuk memikirkan kelangsungan hidup. Bapak, aku merindukanmu.   Selamat siang, pahlawanku. Bagaimana dengan hari-harimu? Samakah dengan hari yang sangat berat aku jalani akhir-akhir ini? Bapak, asal kau tahu. Dibalik ketegaran dan keberanian yang dimiliki anakmu ini, tersimpan sejuta ketakutan yang telah siap menerkam diriku sendiri. Tahukah kau, bapakku? Aku mulai putus asa menjalani kehidupan di kota yang berada jauh darimu seperti ini. Selayaknya berjuang sendirian. Tapi apakah ini yang kau maksud tentang hidup? Ternyata begini rasanya ya? Selamat siang, bapakku. Bagaimana kabar ibu, kakak, dan adik tanpa aku di rumah? Aku ingat saat dahulu ketika gigi ku baru tumbuh 10. Kau mengajari ku naik sepeda, ya kan? Tepat di jalan yang dikelilingi sawah asri itu, kau memegang...