Taukah kau? Tidakkah kau fikirkan
bagaimana jadi aku? Mencintai seseorang yang beribadah setiap sabtu sore.
Menyayangi orang yang rajin menghadiri misa setiap jumat. Apakah kau fikir
hubungan ini mudah? Semudah kau membalikkan tangan?
Tidak, Nona. Kau salah. Kau selalu
menganggap hubungan ini mudah. Memikirkan bahwa akhir hubungan ini selalu
bahagia. Bersama-sama berbuka puasa, mengaji bersama, sholat bersama. Ya, kau
terlalu bermimpi. Ya, aku kembali tahu. Semua memang tak mustahil.
Aku dan dia - seseorang yang
membuat bayangan segitiga dengan tangannya sebelum menyantap makanan pagi itu,
memang mencintai satu sama lain setelah dia memutuskan pergi dari hidupmu. Aku
dan dia, saling menatap dan tersenyum. Sayang. Tapi tahukah kau? Di dalam
diriku, ada kekhawatiran yang tak bisa ku jelaskan. Aku menyayanginya seperti
kau menyayanginya, Nona. Tapi – tolong mengertilah apa maksudku.
Tenang, Nona. Biarkan aku yang
berjuang. Biarkan aku dan dia yang memutuskan akhir cerita ini. Tidak usah kau
risaukan, Nona. Tak usah kau khawatir aku menyakitinya. Aku takkan
menyakitinya. Bahkan aku terlalu takut untuk memberinya luka.
Nona, tidak usah kau cemburu. Biarkan
aku merawatnya. Menggantikanmu. Maaf. Aku tak pernah bermaksud merebut dia
darimu. Kau perlu tahu. Kau tak akan mampu menjalani kisah cinta serumit ini –
seperti mimpi indahmu.
Nona, ini memang bagian
terberatku. Bertahan atau melepas. Cinta ini bukan kesenangan. Tidak seperti
cinta remaja yang saling beradu kata-kata manis – romantis, Nona. Kami – aku dan dia – masih bertahan. Berharap
perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Berharap semua dari kita akan
melangkah sendiri-sendiri. Entah sampai kapan. Yang pasti sampai aku dan dia
sama-sama lelah berjuang dalam cinta berbeda keyakinan ini.
Aku menulis ini ketika aku tak
sanggup lagi diam. Aku mengungkapkan ini ketika air mata sudah tak bisa lagi ku
bendung. Salahkah jika kami hanya ingin saling mencintai? Nona, kau pasti
pernah memikirkan ini sebelumnya, menangis di tengah kesendirian malam mu,
meratap berharap kau dan dirinya sama. Tidak, Nona. Biarkan aku yang menghadapi
ini. Carilah seseorang yang sama denganmu. Carilah yang bisa mewujudkan
mimpimu. Beribadah bersama, melakukan semuanya bersama, di tempat yang sama.
Biarkan aku dan dirinya melangkah. Menghadapi realitas kehidupan. Dengan akhir
yang baik maupun buruk.
Komentar
Posting Komentar