Langsung ke konten utama

Berjuang Sampai Lelah


Taukah kau? Tidakkah kau fikirkan bagaimana jadi aku? Mencintai seseorang yang beribadah setiap sabtu sore. Menyayangi orang yang rajin menghadiri misa setiap jumat. Apakah kau fikir hubungan ini mudah? Semudah kau membalikkan tangan?
Tidak, Nona. Kau salah. Kau selalu menganggap hubungan ini mudah. Memikirkan bahwa akhir hubungan ini selalu bahagia. Bersama-sama berbuka puasa, mengaji bersama, sholat bersama. Ya, kau terlalu bermimpi. Ya, aku kembali tahu. Semua memang tak mustahil.
Aku dan dia - seseorang yang membuat bayangan segitiga dengan tangannya sebelum menyantap makanan pagi itu, memang mencintai satu sama lain setelah dia memutuskan pergi dari hidupmu. Aku dan dia, saling menatap dan tersenyum. Sayang. Tapi tahukah kau? Di dalam diriku, ada kekhawatiran yang tak bisa ku jelaskan. Aku menyayanginya seperti kau menyayanginya, Nona. Tapi – tolong mengertilah apa maksudku.
Tenang, Nona. Biarkan aku yang berjuang. Biarkan aku dan dia yang memutuskan akhir cerita ini. Tidak usah kau risaukan, Nona. Tak usah kau khawatir aku menyakitinya. Aku takkan menyakitinya. Bahkan aku terlalu takut untuk memberinya luka.
Nona, tidak usah kau cemburu. Biarkan aku merawatnya. Menggantikanmu. Maaf. Aku tak pernah bermaksud merebut dia darimu. Kau perlu tahu. Kau tak akan mampu menjalani kisah cinta serumit ini – seperti mimpi indahmu.
Nona, ini memang bagian terberatku. Bertahan atau melepas. Cinta ini bukan kesenangan. Tidak seperti cinta remaja yang saling beradu kata-kata manis – romantis, Nona.  Kami – aku dan dia – masih bertahan. Berharap perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Berharap semua dari kita akan melangkah sendiri-sendiri. Entah sampai kapan. Yang pasti sampai aku dan dia sama-sama lelah berjuang dalam cinta berbeda keyakinan ini.
Aku menulis ini ketika aku tak sanggup lagi diam. Aku mengungkapkan ini ketika air mata sudah tak bisa lagi ku bendung. Salahkah jika kami hanya ingin saling mencintai? Nona, kau pasti pernah memikirkan ini sebelumnya, menangis di tengah kesendirian malam mu, meratap berharap kau dan dirinya sama. Tidak, Nona. Biarkan aku yang menghadapi ini. Carilah seseorang yang sama denganmu. Carilah yang bisa mewujudkan mimpimu. Beribadah bersama, melakukan semuanya bersama, di tempat yang sama. Biarkan aku dan dirinya melangkah. Menghadapi realitas kehidupan. Dengan akhir yang baik maupun buruk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Seminggu Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Happy Birthday, ya :)      Ah, ini cerita basi. Kerinduanku pada sosokmu membuatku teringat akan adanya blog ini. Blog dimana semua cerita mengarah padamu, cerita kesan pertama yang menggetarkan hati, tersusun rapi di sini. Tak peduli siapapun membacanya. Mantan? Teman?Atau orang asing lainnya. Bagiku ini adalah duniaku. Duniaku yang beradu denganmu, menghasilkan rona-rona cerita yang membuat siapapun yang membacanya bertanya, "Siapakah sosok 'kamu'? Siapakah sosok 'dia'?      Kali ini, aku akan menceritakan semua yang terjadi seminggu sebelum hari ulang tahunmu. Semoga kamu tidak marah atas perbuatanku ini, ya. :) ***      Malam ini aku sedang berfikir tentang hari pentingmu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang yang pandai membuat kejutan?      Maaf, sayang. Aku terlalu gugup menyikapi ini. Aku terlalu polos untuk hal ini. Kamu tahu? Aku sudah menghabiskan waktu sebulan terakhir ini hanya untuk memikirkan kamu, ...

Setoreh Cerita Tentang Bapak

Selamat siang, hero ku yang sedang berjuang menjaga nenek. Apa kabar? Siang cerah ini aku kembali memikirkanmu. Mencari penyebab atas alasan ku kembali mencari mu. Sekarang adalah hari Minggu, waktu ku untuk memikirkan kelangsungan hidup. Bapak, aku merindukanmu.   Selamat siang, pahlawanku. Bagaimana dengan hari-harimu? Samakah dengan hari yang sangat berat aku jalani akhir-akhir ini? Bapak, asal kau tahu. Dibalik ketegaran dan keberanian yang dimiliki anakmu ini, tersimpan sejuta ketakutan yang telah siap menerkam diriku sendiri. Tahukah kau, bapakku? Aku mulai putus asa menjalani kehidupan di kota yang berada jauh darimu seperti ini. Selayaknya berjuang sendirian. Tapi apakah ini yang kau maksud tentang hidup? Ternyata begini rasanya ya? Selamat siang, bapakku. Bagaimana kabar ibu, kakak, dan adik tanpa aku di rumah? Aku ingat saat dahulu ketika gigi ku baru tumbuh 10. Kau mengajari ku naik sepeda, ya kan? Tepat di jalan yang dikelilingi sawah asri itu, kau memegang...