Langsung ke konten utama

DIA - Motivator Terhebat


     Aku tak pernah berhenti membahas ini. Otakku sudah terbiasa mendengarnya. Muak bagi sebagian orang yang tak pandai merasakan. Bosan untuk orang yang hanya mempermainkannya saja. Tapi,  selalu baru untuk orang-orang yang tulus mendengarkannya. Namun, semakin lama aku membahas, semakin bingung aku di buatnya. Seperti gelandangan yang tak tahu arah. Berjalan namun tak pernah tahu tujuannya.
Aku dibuat bodoh olehnya. Bagaimana mungkin aku tersenyum-senyum tanpa sebab setiap kali aku bangun tidur? Bagaimana mungkin aku selalu berharap ada pesan yang dia tinggalkan dalam smartphone kecilku?
Remaja labil! Aku selalu mengumpat diri sendiri. Secepat itu kah? Mengganti perasaan lama dengan perasaan "aneh" yang baru kali ini aku alami?
     Kau tahu? Dia orang yang pertama kali "muncul" di saat yang lain baru saja mendengarnya. Dia yang pertama kali "datang" di saat aku membutuhkan seseorang. Dia yang selalu ada di depan pintu saat aku mengatakan "lapar". Yang selalu aku buat marah, jengkel, namun selalu memberikan aku waktu untuk mengucapkan gagasanku. Ya, dia. Yang baru saja membuatku "GILA!!!".
Kau tahu? Perhatiannya nyata namun susah untuk aku artikan!
     Aku akui, aku mengagumi sosoknya. Namun apalah daya. Aku sulit untuk mengartikan "perhatian" yang selalu dia beri lewat kata-kata yang terucap, lewat untaian pesan di sosial media. Aku tak pandai soal ini. Hanya saja dia tahu, aku penasaran dengan arti perhatiannya, kata-kata manisnya yang selalu aku tunggu setiap malam.
Aku tak mau semuanya berakhir dengan tidak indah. Aku selalu mengharapkan sosok yang nyata akan selalu ada. Entah ada sebagai apa, yang terpenting dia selalu membuat aku tersenyum kecil setiap pagi, yang membuat ku semangat menjalani kehidupan yang keras ini.
Sampai saat ini, DIA adalah motivasiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Seminggu Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Happy Birthday, ya :)      Ah, ini cerita basi. Kerinduanku pada sosokmu membuatku teringat akan adanya blog ini. Blog dimana semua cerita mengarah padamu, cerita kesan pertama yang menggetarkan hati, tersusun rapi di sini. Tak peduli siapapun membacanya. Mantan? Teman?Atau orang asing lainnya. Bagiku ini adalah duniaku. Duniaku yang beradu denganmu, menghasilkan rona-rona cerita yang membuat siapapun yang membacanya bertanya, "Siapakah sosok 'kamu'? Siapakah sosok 'dia'?      Kali ini, aku akan menceritakan semua yang terjadi seminggu sebelum hari ulang tahunmu. Semoga kamu tidak marah atas perbuatanku ini, ya. :) ***      Malam ini aku sedang berfikir tentang hari pentingmu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang yang pandai membuat kejutan?      Maaf, sayang. Aku terlalu gugup menyikapi ini. Aku terlalu polos untuk hal ini. Kamu tahu? Aku sudah menghabiskan waktu sebulan terakhir ini hanya untuk memikirkan kamu, ...

Setoreh Cerita Tentang Bapak

Selamat siang, hero ku yang sedang berjuang menjaga nenek. Apa kabar? Siang cerah ini aku kembali memikirkanmu. Mencari penyebab atas alasan ku kembali mencari mu. Sekarang adalah hari Minggu, waktu ku untuk memikirkan kelangsungan hidup. Bapak, aku merindukanmu.   Selamat siang, pahlawanku. Bagaimana dengan hari-harimu? Samakah dengan hari yang sangat berat aku jalani akhir-akhir ini? Bapak, asal kau tahu. Dibalik ketegaran dan keberanian yang dimiliki anakmu ini, tersimpan sejuta ketakutan yang telah siap menerkam diriku sendiri. Tahukah kau, bapakku? Aku mulai putus asa menjalani kehidupan di kota yang berada jauh darimu seperti ini. Selayaknya berjuang sendirian. Tapi apakah ini yang kau maksud tentang hidup? Ternyata begini rasanya ya? Selamat siang, bapakku. Bagaimana kabar ibu, kakak, dan adik tanpa aku di rumah? Aku ingat saat dahulu ketika gigi ku baru tumbuh 10. Kau mengajari ku naik sepeda, ya kan? Tepat di jalan yang dikelilingi sawah asri itu, kau memegang...