Langsung ke konten utama

Hanya Saja Aku Ingin Sendiri

          ''Aku lulus!'' wajah sumringah tak dapat aku tutup-tutupi lagi. Dengan wajah berseri dan tersenyum penuh aku menghampiri lelaki 18 (sembilan belas) tahun itu. Ku tunjukkan hasil kerja keras ku padanya. Ku sodorkan lembaran itu. Menerima. Namun tetap diam.
          ''Tuh kan aku lulus. Wah senang sekali. Alhamdulillah.''
          ''Oh ya, selamat ya. Aku juga.'' jawabnya dengan nada biasa dan datar.
          ''Kamu, kenapa? Tak biasanya kamu seperti itu.''
          ''Oh, tidak. Aku tidak kenapa-kenapa. Sungguh, aku baik-baik saja.''
          ''Tidak mungkin. Kamu menyembunyikan sesuatu. Iya kan? Iya pasti.'' kataku dengan nada menyelidik.
          ''Sudah ku bilang aku baik-baik saja. Mengapa kamu begitu yakin?''
          ''Yakin bagaimana maksudmu?''
          ''Yakin bahwa aku menyembunyikan sesuatu.''
          Aku diam. Aku tahu kamu bukanlah orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Aku tahu dari sudut matamu yang menatapku. Ada kekecewaan disana.
          ''Aku tahu karena ada benang merah di jari kelingking kita.'' kata ku dengan penuh candaan.
          ''Haha. Mungkin dulu. Sepertinya tidak untuk sekarang.''
          ''Kamu berkata apa? Apa itu sebuah lelucon?'' tanya ku heran.
          ''Aku tak mengerti.''
          Aku kembali diam. Jujur, aku tak mengerti alur pembicaraanmu. Karena aku terlalu senang atau bagaimana. Aku tetap tak tahu, sungguh.
          ''Aku hanya bercanda.''
          ''Apa? Tak biasanya candaanmu tak lucu. Kamu menyembunyikan sesuatu. Aku yakin. Bukan tentang hubungan ini kan?''
          ''Tidak. Aku tak mengerti.''
          ''Tolonglah jangan buat aku bertanya-tanya.''
          Aku melihat helaan nafasmu. Aku juga melihat ada kesedihan dalam dirimu.
          ''Iya. Aku merasa sangat bodoh. Aku tak sanggup menjadi imam mu.''
          ''Lho? Kenapa kamu berkata seperti itu?''
          ''Bagaimana mungkin seorang laki-laki di bawah seorang wanita?''
          ''Maksudmu?''
          ''Sudah ku bilang. Aku tak pantas menjadi pemimpinmu, kelak.''
          ''Apa alasanmu sehingga kamu berkata seperti itu, sayang?''
          ''Kamu berada di atasku. Angka-angka dalam kertas itu membuktikannya.''
          ''Itu yang kamu takutkan?''
          ''Iya. Dan itu terjadi. Kamu selalu begitu. Sudah senangkah kamu?''
          Aku semakin bingung. Pertanyaannya tak dapat aku cerna. Senang? Senang bagaimana? Yang pasti aku senang karena kita sama-sama lulus. Itu aja.
          ''Senang, maksudmu?''
          ''Kamu sudah mengalahkan aku. Dan mungkin saatnya kita berjalan sendiri-sendiri.''
          ''Makhluk apa yang memasuki dirimu, sayang? Jangan sampai kamu berpendapat aku senang karena kamu kalah dibawahku.''
          ''Aku berpendapat seperti itu. Maaf''
          Dalam hati, aku mengerti. Kamu pasti sedang membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan hati dan fikiranmu.
          ''Oh, kamu kecewa dengan hasil kemarin?''
          ''Ya. Aku malu. Aku sedih. Aku tak mau dianggap sebelah mata oleh orang lain karena tak sanggup mengalahkan kekasih sendiri.''
          ''Aduh. Kamu salah menilai semua, sayang.''
          ''Apa yang salah? Sudah terbukti. Tak sesuai harapan.''
          ''Kamu kecewa dengan hasil sendiri? Bersyukurlah sayang.''
          ''Ya, aku tahu. Kamu mengatakan seperti itu hanya untuk menenanganku.''
          ''Lantas, aku harus bagaimana? Aku harus memadamkan api yang membara. Itu kan guna sebuah hubungan?'' jawabku tenang.
          Diam.
          ''Menurutmu, apa yang harus aku lakukan sehingga aku tak kecewa begini?''
          ''Banyak yang menangis karena tak lulus. Banyak yang tertekan karena tak berhasil. Bersyukurlah, sayang.''
          ''Tapi aku tak mampu memimpinmu. Kamu harusnya mengerti.''
          ''Angka-angka itu tak ada gunanya sayang. Yang penting prosesnya.''
          ''Proses apa lagi yang harus aku jelaskan? Dalam prosesnya aku selalu diatas. Tapi akhirnya?''
          ''Jangan menyerah.''
          ''Aah, aku tidak bisa melanjutkan ini. Jalan kita pun berbeda.''
          ''Omong kosong. Alasan basi.''
          ''Aku serius, sayang. Sudah cukup aku hancur begini. Gusti sudah memperingatkan aku.''
          ''Kamu mau sendiri?''
          ''Ya, ku rasa begitu.''
          ''Sudah siap kamu berjuang sendirian?''
          Diam.
          Tak tahu apa yang aku rasakan. Ya, aku tahu. Lagi-lagi aku tahu.
          ''Kamu menyalahkan aku? Menyalahkan hubungan kita?''
          ''Tidak. Hanya saja aku ingin sendiri.''
          ''Sendiri seperti apa yang kamu minta?''
          ''Sendiri, tanpa kamu. Tanpa seseorang disampingku sampai aku lulus kuliah nanti.''
          ''Aku khawatir kamu tidak bisa menjaga amanahmu sendiri.''
          ''Aku yakin aku bisa.''
          ''Kamu sudah memikirkan secara matang?''
          ''Ku rasa sudah. Aku tidak ingin membuatmu menunggu akhir dari semua cerita ini. Tak semua cerita berakhir indah seperti di dongeng-dongeng.''
          ''Baiklah. Terserah.''
          ''Aku hanya ingin kamu melupakan aku. Aku tak pantas. Aku tak pandai. Aku tak mau menjadi beban beratmu.''
          ''Seandainya kamu tau. Jika ini terjadi, ini adalah beban terberatku.''
          ''Aku tetap tak peduli. Aku ingin melaju kencang.''
          ''Aku akan dukung itu. Tapi..''
          ''Maaf, aku tak bisa menebak hati orang kedepannya. Aku tak mau kamu jatuh cinta terlalu dalam.''
          ''Iya, aku mengerti.''
          Terpaku.
          ''Bolehkah kamu kembalikan kertas kelulusanku tadi?''
          ''Boleh, nih.''
          Kamu menyerahkan kertas itu kepada ku. Ya, wajahmu memang kini beda. Ada rasa kelegaan dari hatimu.
          Aku kembali terdiam, melihat kertas itu.
          ''Tadinya, aku pikir kamu bahagia atas kelulusan ku. Tadinya aku sempat berfikir kita akan pergi makan-makan ke kedai favorit kita. Tadinya sempat ada bayangan kamu bangga terhadapku. Ya, tadinya. Tapi sekarang aku mengerti.''
          ''Oke, kamu mengerti, kan?''
          ''Ya, sangat mengerti.''
          ''Cari lah yang lebih dari aku.''
          ''Tolong jangan katakan itu dulu. Mendengar ini aja sudah sangat berat. Sekarang, pergilah kemanapun kamu mau.''
          ''Aku akan pergi. Kamu juga harus pergi. Ayo aku antar kamu pulang.''
          ''Aku bisa pulang sendiri.''
          ''Jangan gengsi lah, anak manja. Ayo pulang.''
          Dalam hati terselip kekecewaan. Dalam hati ada kesedihan. Tapi ini harus berjalan. Aku dan kamu, tak dapat memastikan akan berpisah atau kembali. Itu semua jalan dari Nya.
          Aku, tak dapat berkata-kata lagi. Air mata tak dapat ku bendung lagi. Aku menangis. Tanpa kamu sadari air mata itu benar-benar mengalir. Tapi kamu tak melihatnya.
          Aku akan menunggu kabar baik darimu.

          Ya, aku akan tunggu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey, Kamu

          Aku mulai melanjutkan hobi menulis yang selalu bercerita tentangmu. Kali ini tentang rindu. Tentang asa yang tak sanggup aku lakukan dengan caraku. Mungkin iya, aku adalah penyimpan tangis paling hebat yang pernah kau temui. Kali ini tentang rindu. Aku merindukanmu yang setiap hari selalu berada disamping kanan tubuhku.      Memang, kau pergi dengan cepat. Secepat pikiranmu yang mengganggapku buruk. Tanpa meninggalkan kata-kata, ucapan, isyarat agar aku bisa bertahan sendirian. Kamu salah, aku bukanlah wonder woman  yang bisa bahagia ketika kesedihan datang, bisa merelakan ketika kamu memutuskan untuk pergi.      Mungkin kamu belum mengerti satu hal. Dan yang masih kau lihat adalah seluruh kejelekan yang seluruhnya ada di dalam diri. Pernahkah kau berfikir? Aku mati-matian menahan kantuk hanya untuk menemanimu dalam pesan singkat yang kamu kirim?      Ah, sudahlah. Aku tahu yang kau pikirkan ...

Kamu, Sekarang

     Kubuka dan kunyalakan laptop yang ada di hadapanku. Aku penasaran. Aku ingin melihat kamu lagi lewat dunia maya yang tak kan pernah menjadi nyata. Stalker, itu lah aku saat ini. Aku arahkan kursor ini menuju Chrome dan mengetikkan "http://fb.com" di add bar. Aku ingin melihatmu, di duniaku. Kamu membuat ku sibuk. Kamu penyebab utama ku tidak tidur (lagi) malam ini. Aku ingin melihatmu, teramat sangat.      Aku mencari namamu di facebook dan akhirnya aku menemukan satu profil berisi namamu. Nama yang artinya begitu halus dan tulus. Melihat profil facebook mu yang dulu pernah aku pegang, membuatku sedikit mengingat masa lalu.      Kita pernah berhubungan, right? Kita pernah mempunyai status yang begitu dekat, kan? Sampai kita sama-sama mengetahui pasword facebook kita masing-masing, saling bertukar informasi, malah kita pernah berantem gara-gara ada cowok yang ingin berkenalan denganku. Masih ingat? Haha. Tentu aku masih ingat ke...

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani