Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

That's Not True

     Sesuatu yang tak kupahami kini datang lagi. Suatu hal yang membuat ku bingung, risau. Ini bukan soal hati namun realita. Tapi, sebentar, bukan soal hati? Jelas ini soal hati. Sesuatu yang berasal dari hati dan sudah terjadi. Realita. Ya kan?      Aku diam dan mulai berfikir mencari akar dari perasaan ini. Ada semangat tersendiri saat aku melihatmu. Ada sedikit perasaan aneh saat kita satu. Aku takut perasaan yang tak ku inginkan benar-benar datang. Aku takut sesuatu yang menyakitkan merasuk dalam hati. Aku takut semua tidak sejalan dengan keinginanku.      Jauh dari dalam sini aku  menginginkan kesatuan. Bahagia kan kalau kita satu? Namun apa daya? Aku tak tahu hati, perasaan, dan hidupmu. Aku hanya mampu mengerti kamu siapa, dari mana, anak siapa, hanya sebatas itu. Ini yang aku pikirkan. Ketika hubungan di gantungkan. Ketika status saja tidak jelas.      Diammu adalah ragu ku. Semua yang kau hadapi sela...

Kamu, Sekarang

     Kubuka dan kunyalakan laptop yang ada di hadapanku. Aku penasaran. Aku ingin melihat kamu lagi lewat dunia maya yang tak kan pernah menjadi nyata. Stalker, itu lah aku saat ini. Aku arahkan kursor ini menuju Chrome dan mengetikkan "http://fb.com" di add bar. Aku ingin melihatmu, di duniaku. Kamu membuat ku sibuk. Kamu penyebab utama ku tidak tidur (lagi) malam ini. Aku ingin melihatmu, teramat sangat.      Aku mencari namamu di facebook dan akhirnya aku menemukan satu profil berisi namamu. Nama yang artinya begitu halus dan tulus. Melihat profil facebook mu yang dulu pernah aku pegang, membuatku sedikit mengingat masa lalu.      Kita pernah berhubungan, right? Kita pernah mempunyai status yang begitu dekat, kan? Sampai kita sama-sama mengetahui pasword facebook kita masing-masing, saling bertukar informasi, malah kita pernah berantem gara-gara ada cowok yang ingin berkenalan denganku. Masih ingat? Haha. Tentu aku masih ingat ke...

Pergi

ku pejamkan mata ini ku tertidur tanpa lelap tapi ku bermimpi kau jadi milikku suaramu tetap bernyanyi walau sadar ku kian tak ada namun ku bahagia lagumu milikku indah senyumanmu takkan bisa pudar makin indah di hatiku walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi apapun yang kau ciptakan ku akan berjuang dapatkan jika kau bahagia aku semakin bahagia indahnya wajahmu takkan pernah sirna makin terang di hatiku walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi indah senyumanmu takkan bisa pudar makin indah di hatiku walau ku sadari itu cinta yang tak mungkin jadi meski ku tak bisa memiliki dirimu takkan ku berpaling pergi (berpaling pergi) makin ku mencintai ku lepas kau kekasih biar terbang tinggi cinta yang tak mungkin terbang tinggi      Jika kamu mengalami kisah cinta seperti lirik lagu yang aku tulis di atas berarti kamu hebat. Bagaimana tidak? Saat cinta tidak dibalas dengan semestinya, disaat cinta malah berusaha menerkamnya...

BIOGRAFI 2

     Aku pejuang tiada henti. Selalu melaju, mengejar. Mengejar sesuatu yang tidak pasti namun ku yakini. Sebab setiap titik usaha adalah jalan sukses ku. Mengendarai motor "metik" setiap hari. Menuju tempat takdir ku. Universitas Diponegoro kini dalam genggaman. Dengan almamater tercinta Teknik Lingkungan. Ini lah tujuan ku. Tujuan awal, bukan akhir. Aku telah berhasil melewati satu langkah. Namun masih ada banyak langkah yang harus aku tempuh.      Aku ingat saat dahulu aku menulis biografi tentang ku di blog ini. Keinginan dan ambisius yang sangat tinggi. Teknik Lingkungan, Teknik Lingkungan, dan Teknik Lingkungan yang selalu ku sebut dalam setiap sujud malam ku. Tak jarang aku menangis karena aku takut gagal. Aku takut, seperti yang lain. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu berusaha. Memperjuangkan yang terbaik. Memberikan hasil maksimal. Berharap bapak ibu tahu bahwa anaknya ini bukanlah anak yang nakal.      Malam ...

Berkas Ulang Tahunmu :))

Selamat datang di duniaku  J 16 Juni 2013 Aku, kamu bertemu pada frekuensi yang tepat. -Paak Mirin- Recomended: Bacalahh disaat gundah melanda hatimu Dua orang yang tidak pernah berfikir akan bertemu.. Kisahmu dan dirinya Perkenalan yang singkat. Kamu menganggapnya seseorang yang biasa saja Kamu dan dirinya Bertatap muka setiap hari Tanpa tutur kata Kamu dan dia Sekarang bersatu Melawan segala perbedaan Jalan bersama menembus rintangan  ***  Hai, Windy. Happy birthday J Aku punya cerita. Yap tentang kamu dan Aku. Entah kenapa aku tak pernah bosan bercerita tentang ini. Untuk kamu yang entah sebenarnya dipanggil dengan nama siapa. Selamat datang di buku kecil ini. Buku  ini bukan satu-satuya kado yang menarik buatmu. Bukan kado aneh seperti sang dibuat sahabat-sahabatmu disana. Selamat membaca ya J  *** #25 Mei 2013 sekitar pukul 7 malam Ketika itu, aku dipekalongan. Aku kelaparan. Dan ingin ...

Masih Sama

Aku. Kamu. Entah dengan cara apa bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama masing-masing. Semu, tapi sangat jelas. Yang aku butuhkan hanya pertemuan. Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti menginginkannya juga. Aku capek, sayang. Menunggu kamu setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu – ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya, aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan ta...

Tidak Berjudul

     Aku lelah. Aku ingin tidur. Sebentar saja. Aku butuh waktu. Untuk berhenti memikirkan sesuatu. Semua hal bercampur jadi satu. Bahkan aku sendiri tak bisa membedakan mana yang nyata dan yang khayal. Galau. Risau. Aku sangat benci ketika semua rasa itu menghampiri di saat aku sudah terkantuk seperti ini. Kembali aku memikirkan kamu, dia, dan mereka. Aku ingin tidur. Terpejam. Bukan terjaga seperti ini. Kantong mataku sudah terlalu tebal. Tak karuan, Tak berdaya.      Oke, kita selesaikan semua nya malam ini. Yang pertama adalah kamu. Jujur kamu sangat mengganggu ku. Ahh. Namun seperti nya aku belum bisa menyelesaikan masalah ku dengan mu. Intinya kamu selama ini selalu bergayut dalam ingatan.      Dia? Siapa dia?      Mereka. Mereka? Mereka siapa? Aku tak pernah membahas mereka di sini.Siapa mereka? Siapa! Tidak ada jawaban dari hati ku.      OKE.      Biang masalah nya adalah ka...

Siapa Aku? Aku Siapa?

     Kamu. Sosok yang diam-diam aku perhatikan begitu sulit aku artikan. Pertemuan aneh kita membuat semua nya runyam. Ya, hati ku runyam. Aku yang tak pandai mengerti begitu cepat mengagumi. Aneh. Biasanya tak secepat ini aku menyukai seseorang. Apalagi seseorang yang baru aku kenal minggu malam.      Pernah suatu ketika kita berpapasan. Aku menyimpan wajah. Tak berani menatap namun sesekali melirik ke wajahmu. Berharap kamu juga melihatku. Namun ku rasa tidak.      Ku rebahkan tubuh rapuh di kasur empuk dalam kamar kesayanganku. Memandang langit-langit. Berfikir. Melamun. Siapa aku? Aku siapa? Mataku terpejam. Namun ketika terpejam, mata ini selalu saja meminta alasan untuk terjaga. Meminta aku memikirkan hal yang akhir-akhir ini sering menghantui.Hatiku melayang bak burung berterbangan. Burung congak yang enggan turun se senti pun. Aku merasa aneh lagi! Arrghh! Butuh kejelasan? Tidak. Aku nyaman seperti ini. Butuh pendekatan? Tida...

Berjuang Sampai Lelah

Taukah kau? Tidakkah kau fikirkan bagaimana jadi aku? Mencintai seseorang yang beribadah setiap sabtu sore. Menyayangi orang yang rajin menghadiri misa setiap jumat. Apakah kau fikir hubungan ini mudah? Semudah kau membalikkan tangan? Tidak, Nona. Kau salah. Kau selalu menganggap hubungan ini mudah. Memikirkan bahwa akhir hubungan ini selalu bahagia. Bersama-sama berbuka puasa, mengaji bersama, sholat bersama. Ya, kau terlalu bermimpi. Ya, aku kembali tahu. Semua memang tak mustahil. Aku dan dia - seseorang yang membuat bayangan segitiga dengan tangannya sebelum menyantap makanan pagi itu, memang mencintai satu sama lain setelah dia memutuskan pergi dari hidupmu. Aku dan dia, saling menatap dan tersenyum. Sayang. Tapi tahukah kau? Di dalam diriku, ada kekhawatiran yang tak bisa ku jelaskan. Aku menyayanginya seperti kau menyayanginya, Nona. Tapi – tolong mengertilah apa maksudku. Tenang, Nona. Biarkan aku yang berjuang. Biarkan aku dan dia yang memutuskan akhir cerita ...

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dalam jiwa terselip satu nama. Dalam hati tersimpan kenangan bersamanya. Ibu, makhluk sempurna hadiah Tuhan untukku. Banyak kenangan yang aku torehkan bersamanya. Tak jarang ibu tertawa akan kepolosanku. Tersenyum dan berkata ''Bagus!'' saat aku berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah. Marah ketika aku malas menyauti perintah. Dan memandang sembari mengelus rambutku ketika aku sudah larut dalam mimpi. Tulus. Perhatian. Beliau adalah ibu terhebatku. Bekerja mati-matian - pulang larut malam - hanya untuk menuruti keinginanku. Ya, sama seperti bapak. Ibu adalah pekerja keras. Dalam hidupnya tidak pernah ada kata menyerah. Dalam dirinya tidak pernah ada kata takut untuk mencoba. Aku salut. Bangga. Ibu hebat! Ibu. Seseorang yang tak pernah luput dari doa dalam setiap malamku. Seorang yang mampu meredam ketakutanku. Seseorang yang pantas menangis bangga karenaku. Happy birthday, Ibu. Maaf, aku datang tanpa kue seperti yang kita lakukan tahun lalu. Aku tak menyiapkan ka...

Sampai Nanti

Aku merindukanmu. Ya, benar. Aku merindukanmu. Setelah aku berpura-pura kuat sesaat sebelum kau pergi. Aku tak mengerti. Bukankah cinta sejati tidak akan saling meninggalkan? Bukankah janji-janji yang pernah kau haturkan (dulu) masih berlaku? Entah. Kangen . Ketika kau tak malu bercerita tentang hidupmu melalui pesan singkat. Ketika kau tak merasa bosan membaca pesan ku yang tak masuk akal. Ketika kita saling tersenyum sambil menatap layar kecil dalam genggaman. Tapi semua itu hanya sementara. Sekejap. Kamu berusaha melangkah. Menjauh. Pergi. Ya, sendiri tanpa aku. Aku tak tau pasti mengapa kamu begitu cepat berubah. Aku selalu percaya perubahan itu hanya sementara. Aku tahu kamu pasti kembali. Aku paham kamu bukan seorang 'penjahat' yang siap menerkam ku. Aku mengerti kamu tidak sedang mengajakku menaiki 'roller coaster' mu. Terbang tinggi lalu tiba-tiba jatuh terhempas. Sabar. Tegar. Menunggu. Terlalu bodohkah aku? Tetap sabar ketika kamu mengetikkan kata...

Rindu

Aku. Kamu. Entah dengan cara apa bertemu. Ya, tanpa sengaja – mungkin. Mungkin? Ya. Aku selalu beranggapan kita pernah bertemu – tanpa sengaja. Dengan bodohnya, aku selalu meminta pertemuan itu. Walau dengan imaji. Otakku melayang entah kemana. Memikirkan pertemuan semu itu. Ya, aku dan kamu saling menatap, bersalaman, sambil mengucapkan nama masing-masing. Semu, tapi sangat jelas. Yang aku butuhkan hanya pertemuan. Aku, kamu, kita. Sudah sangat dekat – dan sudah berlangsung lama. Apakah salah aku meminta pertemuan ini? Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu pasti menginginkannya juga. Aku capek, sayang. Menunggu kamu setiap hari. Menatap layar handphone berkali-kali. Menunggu pesan singkatmu – ucapan salam – candaan. Kangen. Pasti. Bagaimana pun kamu – yang pernah aku lihat walau dalam diam, menguasai pikiranku saat ini. Bodoh – memang. Aku selalu menunggu hal yang tak pasti. Menunggu kata-katamu untuk bertemu. Iya, aku tahu kita pernah bertemu. Walau hanya dengan tatapan...

Hanya Saja Aku Ingin Sendiri

          ''Aku lulus!'' wajah sumringah tak dapat aku tutup-tutupi lagi. Dengan wajah berseri dan tersenyum penuh aku menghampiri lelaki 18 (sembilan belas) tahun itu. Ku tunjukkan hasil kerja keras ku padanya. Ku sodorkan lembaran itu. Menerima. Namun tetap diam.           ''Tuh kan aku lulus. Wah senang sekali. Alhamdulillah.''           ''Oh ya, selamat ya. Aku juga.'' jawabnya dengan nada biasa dan datar.           ''Kamu, kenapa? Tak biasanya kamu seperti itu.''           ''Oh, tidak. Aku tidak kenapa-kenapa. Sungguh, aku baik-baik saja.''           ''Tidak mungkin. Kamu menyembunyikan sesuatu. Iya kan? Iya pasti.'' kataku dengan nada menyelidik.           ''Sudah ku bilang aku baik-baik saja. Mengapa kamu begitu yakin?''           ''Yakin bagaimana maks...

Kau, Lelaki Manis

          Hey, lelaki manis. Bagaimana kabarmu? :')           Kejadian 4 (empat) tahun lalu. Masih ingatkah? Mungkin kau sudah lupa karena memang sengaja untuk melupakannya. Ahh, tapi aku tak peduli!           Bolehkah aku - yang pernah menjadi persinggahan hati mengungkit semua itu kembali? :)           Lelaki manis yang sempat ku dambakan,           Seandainya kau tau apa yang ada di sini, di dalam sini, pantaskah aku mengeluh tersakiti? Oke, aku sadar, aku bukan yang terkuat, aku menyadarinya.           Kau, Lelaki manis namun egois,           Secara tiba-tiba datang 4 (empat) tahun lalu menghadap, menyapa,  mendekat seakan meyakinkan aku bahwa kau lah pemenang di setiap doa yang aku panjatkan di setiap sujudku. Bagaimana bisa aku langsung percaya kau datang? Kau - ibarat pelampun...

BIOGRAFI I

Nama : Sely Oktaviolita Asri TTL : Pemalang, 12 Oktober 1996 Pendidikan :  Taman Kanak-Kanak Aisyiah Busthanul Athfal SD Negeri 2 Randudongkal SMP Negeri 1 Randudongkal SMA Negeri 1 Pemalang Universitas Diponegoro (Insya Allah, Aamiin :) *smile )        Oke, panggil aja Sely. Kali ini aku mau cerita tentang semua kehidupanku dari saya kecil dahulu sampai sekarang.        Aku hadir di dunia berkat orang tuaku *yaiyalaah* . Beliau (baca: ibuku) telah mengandungku 17 tahun yang lalu. Aku hadir ketika kakakku, Asria Novenila Intani berusia 4 (empat) tahun. Ya, aku anak kedua. Dan bagiku itu adalah anugerah yang paling aku syukuri. Umur 5 tahun saya disekolahkan di salah satu taman kanak-kanak di desaku. Yap! TK Busthanul Athfal. Tubuh kecilku kala itu memakai seragam kuning-hijau dan bertopi. Manis sekali. Faktanya, aku jarang dijemput oleh kedua orang tuaku setiap kali aku pulang sekolah. Mereka sangat sibuk bekerja u...

Ketika

Ketika semua datang dengan tiba-tiba Ketika hal yang baru menghampiri Ketika hati telah menemui Ketika itu aku mengerti Bahkan ketika orang lain melihatku iri Ketika itu juga aku sakit hati Ketika mulut mereka berkata seenaknya Ketika mereka tak pernah melihat isi hati Bahkan ketika mereka tak akan pernah mengerti Ya.. aku tahu Hidup tak pernah berjalan mulus Selalu ada kata "ketika", "ketika", dan "ketika" Kebahagian, kesakitan, keputus-asaan Aku hampir menyerah kala itu Tapi aku mengerti Tak semuanya bertingkah seperti itu Yaa, aku memulai itu ketika aku mengenalmu Ketika kamu mengajariku arti kesabaran Ketika itu aku mulai bangkit Dan ketika itu hilang sudah rasa sakitku Terima kasih, waktu Terima kasih, kamu Terima kasih, "ketika"