Langsung ke konten utama

BIOGRAFI 2

     Aku pejuang tiada henti. Selalu melaju, mengejar. Mengejar sesuatu yang tidak pasti namun ku yakini. Sebab setiap titik usaha adalah jalan sukses ku. Mengendarai motor "metik" setiap hari. Menuju tempat takdir ku. Universitas Diponegoro kini dalam genggaman. Dengan almamater tercinta Teknik Lingkungan. Ini lah tujuan ku. Tujuan awal, bukan akhir. Aku telah berhasil melewati satu langkah. Namun masih ada banyak langkah yang harus aku tempuh.
     Aku ingat saat dahulu aku menulis biografi tentang ku di blog ini. Keinginan dan ambisius yang sangat tinggi. Teknik Lingkungan, Teknik Lingkungan, dan Teknik Lingkungan yang selalu ku sebut dalam setiap sujud malam ku. Tak jarang aku menangis karena aku takut gagal. Aku takut, seperti yang lain.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu berusaha. Memperjuangkan yang terbaik. Memberikan hasil maksimal. Berharap bapak ibu tahu bahwa anaknya ini bukanlah anak yang nakal.
     Malam ini, aku berada di situasi dan kondisi yang berbeda. Jauh dari orang-orang yang aku sayang. Aku sendirian, memikul hidup dan masa depan.
     Terkadang aku sangat merindukan tempat kelahiranku. Rumah abu-abu hitam bergaya minimalis dengan kedua pintu besar dan taman depan rumah yang begitu menyejukkan. Aku rindu orang-orang yang menempatinya. Bapak, Ibu, Mama, Bapak Slamet, Mba Intan, Adel. Aku sangat merindukan mereka. Sangat. Dan sangat.
     Aku berada pada situasi dan kondisi berbeda. Dimana aku harus menyiapkan diri ku sendiri setiap pagi - gambaran ketika tua nanti. Aku yang belum terbiasa atau dunia nyata yang begitu kejam?
     Aku iri ketika teman-teman bisa pulang setiap hari, Mencium tangan orang tua, bermain dengan adek, dan semuanya serba mudah. Aku ingin seperti itu :'(
Saat ini, aku menangis lagi. Sendirian. Tanpa ada yang mendengar.
     Aku punya syair untuk diriku sendiri.

Untuk kamu yang terlalu sibuk, sempatkan menyapa orang tuamu. Untuk kamu yang tak pernah tidur, cobalah menghubungi orang tuamu. Untuk kamu yang selalu pusing, ingatlah pada kewajibanmu. Kamu masih punya DIA dan orang tua yang harus kamu utamakan. Maka, kamu akan dipermudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Itu, Mengerti

Cinta itu, Gampang merangkai kata-kata namun sulit untuk dilakukan Mudah dimulai namun sangat sulit untuk bertahan Cinta itu, Ketika kamu mampu tersenyum saat menatap wajah bahagianya Saat kamu berfikir bahwa dia lah satu-satunya orang yang paling mengerti Cinta itu, Tetap menunggu saat kesempatan tak lagi ada Bertahan saat kesetianmu diuji Cinta itu, Kau tetap menggenggamnya saat jatuh jiwanya Kau masih setia saat ujian datang tiba-tiba Cinta itu, Bukan sekedar kata 'I Love You' Bukan hanya kaka-kata indah sebelum tidur Cinta itu, Ketika kau mengerti isi hati dan pikirannya Ketika hanya kau satu-satunya Walaupun cintamu selalu melakukan kesalahan-kesalahan kecil Tapi dia masih mempertahankanmu Dengan sangat berani

Seminggu Sebelum Hari Ulang Tahunmu

Happy Birthday, ya :)      Ah, ini cerita basi. Kerinduanku pada sosokmu membuatku teringat akan adanya blog ini. Blog dimana semua cerita mengarah padamu, cerita kesan pertama yang menggetarkan hati, tersusun rapi di sini. Tak peduli siapapun membacanya. Mantan? Teman?Atau orang asing lainnya. Bagiku ini adalah duniaku. Duniaku yang beradu denganmu, menghasilkan rona-rona cerita yang membuat siapapun yang membacanya bertanya, "Siapakah sosok 'kamu'? Siapakah sosok 'dia'?      Kali ini, aku akan menceritakan semua yang terjadi seminggu sebelum hari ulang tahunmu. Semoga kamu tidak marah atas perbuatanku ini, ya. :) ***      Malam ini aku sedang berfikir tentang hari pentingmu. Bagaimana bisa aku menjadi seorang yang pandai membuat kejutan?      Maaf, sayang. Aku terlalu gugup menyikapi ini. Aku terlalu polos untuk hal ini. Kamu tahu? Aku sudah menghabiskan waktu sebulan terakhir ini hanya untuk memikirkan kamu, ...

Setoreh Cerita Tentang Bapak

Selamat siang, hero ku yang sedang berjuang menjaga nenek. Apa kabar? Siang cerah ini aku kembali memikirkanmu. Mencari penyebab atas alasan ku kembali mencari mu. Sekarang adalah hari Minggu, waktu ku untuk memikirkan kelangsungan hidup. Bapak, aku merindukanmu.   Selamat siang, pahlawanku. Bagaimana dengan hari-harimu? Samakah dengan hari yang sangat berat aku jalani akhir-akhir ini? Bapak, asal kau tahu. Dibalik ketegaran dan keberanian yang dimiliki anakmu ini, tersimpan sejuta ketakutan yang telah siap menerkam diriku sendiri. Tahukah kau, bapakku? Aku mulai putus asa menjalani kehidupan di kota yang berada jauh darimu seperti ini. Selayaknya berjuang sendirian. Tapi apakah ini yang kau maksud tentang hidup? Ternyata begini rasanya ya? Selamat siang, bapakku. Bagaimana kabar ibu, kakak, dan adik tanpa aku di rumah? Aku ingat saat dahulu ketika gigi ku baru tumbuh 10. Kau mengajari ku naik sepeda, ya kan? Tepat di jalan yang dikelilingi sawah asri itu, kau memegang...