Langsung ke konten utama

Setoreh Cerita Tentang Bapak


Selamat siang, hero ku yang sedang berjuang menjaga nenek. Apa kabar?

Siang cerah ini aku kembali memikirkanmu. Mencari penyebab atas alasan ku kembali mencari mu. Sekarang adalah hari Minggu, waktu ku untuk memikirkan kelangsungan hidup. Bapak, aku merindukanmu. 

Selamat siang, pahlawanku. Bagaimana dengan hari-harimu? Samakah dengan hari yang sangat berat aku jalani akhir-akhir ini?

Bapak, asal kau tahu. Dibalik ketegaran dan keberanian yang dimiliki anakmu ini, tersimpan sejuta ketakutan yang telah siap menerkam diriku sendiri. Tahukah kau, bapakku? Aku mulai putus asa menjalani kehidupan di kota yang berada jauh darimu seperti ini. Selayaknya berjuang sendirian. Tapi apakah ini yang kau maksud tentang hidup? Ternyata begini rasanya ya?

Selamat siang, bapakku. Bagaimana kabar ibu, kakak, dan adik tanpa aku di rumah?

Aku ingat saat dahulu ketika gigi ku baru tumbuh 10. Kau mengajari ku naik sepeda, ya kan? Tepat di jalan yang dikelilingi sawah asri itu, kau memegangi kayu yang sengaja kau kaitkan di belakang sepedaku lalu menuntunku menaiki sepeda roda dua yang sudah ditambah dengan roda kecil di samping kiri roda belakang itu. Tahukah kau apa yang aku rasakan saat itu? Aku takut jatuh. Takut dengkul ku terluka dan membekas. Tapi apa yang kau lakukan? Setiap kali aku terjatuh dari sepeda, kau langsung menggendongku di atas pundakmu sambil di ayun-ayunkan ke atas. Tangisan sesenggukanku seketika berubah menjadi tawa bahagia. Sungguh, aku sudah melihat ketulusan jiwa seorang bapak disitu.

Selamat siang, bapakku yang selalu mendoakanku dalam dzikir Shubuhmu.

Saat ini, sungguh, aku merindukanmu. Tangisku saat ini adalah tentangmu, bukan tentang lelaki-lelaki itu yang kerap kali melukaiku. Aku ingin pulang, mencium tanganmu, berbagi cerita lucu yang aku alami di kota panas ini, ingin pergi liburan bersamamu juga ibu, kakak, dan adik.

Selamat siang, semangatku.

Maafkan aku yang jarang pulang ke istana terindahku Bukannya aku sudah melupakanmu, bapak. Namun aku masih belum ingin pulang dengan tangan hampa Aku ingin membahagiakanmu seperti mendapat IPK 4 seperti semester I kemarin. Aku ingin mewujudkan mimpi besarku untuk menjadi seorang "Mahasiswa Berprestasi". Aku ingin melihat tegapnya tubuhmu saat kau sedang membicarakanku dengan rekan-rekanmu Intinya, aku ingin membahagiakanmu, membalas keringatmu yang mati-matian berjuang untuk biaya kuliahku.Aku sangat menyayangimu, bapak.

I love you so much, Akhmad Sutoto.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey, Kamu

          Aku mulai melanjutkan hobi menulis yang selalu bercerita tentangmu. Kali ini tentang rindu. Tentang asa yang tak sanggup aku lakukan dengan caraku. Mungkin iya, aku adalah penyimpan tangis paling hebat yang pernah kau temui. Kali ini tentang rindu. Aku merindukanmu yang setiap hari selalu berada disamping kanan tubuhku.      Memang, kau pergi dengan cepat. Secepat pikiranmu yang mengganggapku buruk. Tanpa meninggalkan kata-kata, ucapan, isyarat agar aku bisa bertahan sendirian. Kamu salah, aku bukanlah wonder woman  yang bisa bahagia ketika kesedihan datang, bisa merelakan ketika kamu memutuskan untuk pergi.      Mungkin kamu belum mengerti satu hal. Dan yang masih kau lihat adalah seluruh kejelekan yang seluruhnya ada di dalam diri. Pernahkah kau berfikir? Aku mati-matian menahan kantuk hanya untuk menemanimu dalam pesan singkat yang kamu kirim?      Ah, sudahlah. Aku tahu yang kau pikirkan ...

Kamu, Sekarang

     Kubuka dan kunyalakan laptop yang ada di hadapanku. Aku penasaran. Aku ingin melihat kamu lagi lewat dunia maya yang tak kan pernah menjadi nyata. Stalker, itu lah aku saat ini. Aku arahkan kursor ini menuju Chrome dan mengetikkan "http://fb.com" di add bar. Aku ingin melihatmu, di duniaku. Kamu membuat ku sibuk. Kamu penyebab utama ku tidak tidur (lagi) malam ini. Aku ingin melihatmu, teramat sangat.      Aku mencari namamu di facebook dan akhirnya aku menemukan satu profil berisi namamu. Nama yang artinya begitu halus dan tulus. Melihat profil facebook mu yang dulu pernah aku pegang, membuatku sedikit mengingat masa lalu.      Kita pernah berhubungan, right? Kita pernah mempunyai status yang begitu dekat, kan? Sampai kita sama-sama mengetahui pasword facebook kita masing-masing, saling bertukar informasi, malah kita pernah berantem gara-gara ada cowok yang ingin berkenalan denganku. Masih ingat? Haha. Tentu aku masih ingat ke...

BIOGRAFI I

Nama : Sely Oktaviolita Asri TTL : Pemalang, 12 Oktober 1996 Pendidikan :  Taman Kanak-Kanak Aisyiah Busthanul Athfal SD Negeri 2 Randudongkal SMP Negeri 1 Randudongkal SMA Negeri 1 Pemalang Universitas Diponegoro (Insya Allah, Aamiin :) *smile )        Oke, panggil aja Sely. Kali ini aku mau cerita tentang semua kehidupanku dari saya kecil dahulu sampai sekarang.        Aku hadir di dunia berkat orang tuaku *yaiyalaah* . Beliau (baca: ibuku) telah mengandungku 17 tahun yang lalu. Aku hadir ketika kakakku, Asria Novenila Intani berusia 4 (empat) tahun. Ya, aku anak kedua. Dan bagiku itu adalah anugerah yang paling aku syukuri. Umur 5 tahun saya disekolahkan di salah satu taman kanak-kanak di desaku. Yap! TK Busthanul Athfal. Tubuh kecilku kala itu memakai seragam kuning-hijau dan bertopi. Manis sekali. Faktanya, aku jarang dijemput oleh kedua orang tuaku setiap kali aku pulang sekolah. Mereka sangat sibuk bekerja u...